ASAL – USUL
Tarian riringgo
adalah salah satu tarian tradisional anak suku padoe ( anak suku dari ex
kerajaan luwu ) , disamping tarian mongkaliboe, tarian laemba, tarian dero, dan
lain-lain.
ARTI
TARIAN RIRINGGO
Kata “riringgo”
dalam bahasa padoe berarti halangan atau rintangan. Tarian riringgo adalah
tarian yang bertendensi kemenangan yang penuh kegirangan / sukacita. Tarian
riringgo ditampilkan pada acara-acara syukuran; disamping pada acara syukuran
karena panen yang berhasil, juga pada acara syukuran menyambut pongkiari yang
pulang berperang dan menang, serta acara syukuran menyambut saliwu waktu pulang
dari palopo menebang pohon langkanae.
Bunyi tongkat
yang dipukul-pukulkan secara berirama oleh para penari melambangkan bunyi alu
yang dipukulpukulkan ke pinggir lesung secara bersahut-sahutan oleh para
muda-mudi yang sedang menumbuk padi sambil bercengkerama ria.
Para penari (
pasangan muda-mudi ) yang melompat diantara 3 pasang tongkat yang
dipukul-pukulkan dengan posisi menutup dan membuka ( menghalang-halangi para
penari ) , harus cekatan dan lincah, sebab kalau kaki tercepit bisa berakibat
fatal. Mendekati akhir tarian, irama semakin dipercepat dan sesekali diselingi
teriakan gembira oleh para penari yang terdiri dari 2 pasang muda-mudi. Tarian
riringgo disamping diiringi dengan dentuman gendang dan gong yang sekaligus
memberikan semangat kepada para penari , juga diringi nyanyian dimana syair
lagu berisi puja dan puji terhadap keindahan dan kekayaan alam “wute nuha”.
Karena sifatnya yang riang-gembira, tarian riringgo pada dewasa ini juga sering
ditampilkan pada event-event penting, termasuk menyambut tamu-tamu atau
pejabat-pejabat penting yang berkunjung ke kecamatan nuha, bahkan juga sering
ditampilkan pada hari-hari raya nasional. Tarian riringgo adalah merupakan
salah satu tarian andalan / kebanggaan kecamatan nuha.
Wasuponda, 01 September
2002

Keren
BalasHapus